Senin, 19 Juli 2010

Penemuan Gunung Berapi di Bawah Laut

Sebuah info terbaru untuk saya dan bahkan teman-teman yang belum pernah mendengar atau menyaksikan berita ini di media cetak maupun media visual.
Namun sebagian dari teman-teman pasti telah mengetahui hal ini.



Penemuan gunung berapi di bawah laut.

Penemuan ini adalah
hasil dari penelitian tim Indonesia Ekspedisi Sangihe Talaud atau Index/Satal 2010, kerja sama Indonesia-Amerika Serikat.  Mereka berhasil mengidentifikasi sebagian temuannya. Di antaranya, di kedalaman sekitar 2.000 meter ditemukan cerobong gunung api bawah laut yang bersuhu 300-400 derajat celsius.




Ekspedisi itu dimulai awal Juli 2010 dan direncanakan berlangsung sampai 10 Agustus 2010. Kegiatan tersebut melibatkan 32 ilmuwan Indonesia dan 12 ilmuwan Amerika Serikat yang menganalisis hasil-hasil eksplorasi bawah laut dengan kapal riset Okeanos Explorer melalui Pusat Komando Penelitian di kantor Badan Riset Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan di Ancol, Jakarta Utara, serta di Seattle, Amerika Serikat.
“Di perairan Sangihe Talaud ada aktivitas vulkanik, tetapi belum diketahui hingga kini seberapa aktif,” kata Ketua Tim Periset Indonesia dalam Index/Satal 2010 Sugiarta Wirasantosa, ketika dihubungi di Jakarta, Minggu (11/7/2010).




Kandungan larutan bersuhu tinggi dari perut bumi itu mengandung mineral, logam, dan gas, yang dipengaruhi suhu air laut dalam yang mencapai 2-4 derajat celsius. Hal ini menimbulkan aliran larutan dari perut bumi itu memperoleh pendinginan mendadak.

Aktivitas gunung api bawah laut, menurut Soeharsono, juga ada di perairan dangkal. Ia menyebutkan, di wilayah Bima, Nusa Tenggara Barat, malah terdapat aktivitas gunung api bawah laut dengan kedalaman 100-200 meter. Namun, eksplorasi ilmu pengetahuan tentang itu masih sangat sedikit.

Soeharsono mengatakan, sekitar tahun 2003 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pernah bekerja sama dengan Australia untuk mengidentifikasi gunung api bawah laut di Sangihe Talaud. Pada waktu itu ditemukan kandungan larutan yang keluar dari perut bumi, kemudian membentuk cerobong-cerobong itu. Di antaranya ternyata mengandung emas.

...




Hal lain yang menarik, perairan Sangihe Talaud merupakan wilayah pertemuan dua jalur gunung api besar di dunia. Lebih dari itu, para peneliti dunia merasa penasaran karena perairan tersebut memang belum banyak dieksplorasi, terutama potensi yang terkandung di dalamnya. Rute survei akan dimulai dari utara Manado hingga perbatasan antara Indonesia dengan Filipina. Adapun rencana pelaksanaan kegiatan penelitian diagendakan selama 35 hari, mulai 6 Juli sampai 9 Agustus 2010.

Untuk menunjang kegiatan survei tersebut, Baruna Jaya IV dilengkapi berbagai jenis peralatan. Beberapa di antaranya yaitu multibeam seabeam 1050D, conductivity-tempe rature-depth (CTD) SeaBird 911 Sea Bird SBE-911 dan CTD Sea Bird SBE-37, hull moun ted acoustic doppler current profofiler (ADCP), plankton dan larvae net, automatic reef monitoring system (ARMS), serta beam trawl laut dalam.

Okeanos Explorer bertugas mengeksplorasi perairan dengan kedalaman 2.500 sampai 6.000 meter.




Kapal tersebut telah melakukan riset lebih dulu sejak Jumat, (23/6). Dalam eksplorasi awal, Okeanos Explorer menyisir wilayah perairan sebelah barat Pulau Kawio, yaitu pulau terluar Indonesia yang berbatasan dengan Filipina.
Di perairan yang termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe dan terletak di Laut Mindanao tersebut, para ilmuwan AS bersama tiga ilmuwan Indonesia menemukan banyak sekali “cerobong asap” (chimney). Chimney itu ditemukan di sekitar gunung api bawah laut bernama Gunung Kawio. Puncak gunung tersebut berada di kedalaman 1.900 meter dari permukaan laut. Gunung itu tegak berdiri setinggi 3.500 meter, terukur dari dasar laut sedalam kurang lebih 5.000 meter.

Sedangkan lubang-lubang hidrotermal yang mengeluar kan chimney terbentuk ketika air laut dingin merembes memasuki kerak Bumi melalui retakan di dasar laut. Tatkala bergerak lebih dalam memasuki kerak, air laut dipanaskan oleh batuan yang mencair. Dengan naiknya suhu, belerang dan logam seperti tembaga, seng, dan besi larut dari batuan di sekitarnya kemudian masuk ke dalam cairan panas itu. Akhirnya, cairan yang kaya mineral itu terdesak ke atas dan menyembur dari bukaan di dasar laut.

Suhu semburan cairan dapat mencapai 400 derajat celcius dan mengandung hidrogen sulfida. Ketika cairan hidrotermal panas bertemu dengan air laut dingin, mineral di dalam cairan pun mengendap. Endapan partikel itu menyebabkan cairan terlihat seperti asap sehingga disebut chimney. Ada pula yang menyebut cairan itu sebagai perokok hitam atau putih karena mengeluar kan asap.
Warna asap putih atau hitam tersebut bergantung pada jenis mineral dalam cairan.

Tidak heran apabila di lokasi penemuan terdapat chimney yang memiliki tinggi hingga beberapa meter. Endapan tersebut mengandung partikel-partikel mineral emas, perak, tembaga, seng, dan besi. Peralatan yang digunakan Okeanos Explorer untuk memetakan fitur dasar laut yang memiliki aliran cairan aktif dari sistem hidrotermal adalah CTD SeaBird 911.



Untuk membiayai ekspedisi tersebut, pihak AS menyediakan dana sebesar 7 juta dollar AS atau sekitar 6,3 miliar rupiah, sedangkan pihak Indonesia mengeluarkan biaya 1,5 miliar rupiah.

dipragha

9 komentar:

  1. Pertama sob , ,
    iya sob saya ingat kmren liat berita ne di metro tv , ngeri liatnya

    BalasHapus
  2. wah, kok bisa yah, pdahal laut kan aer smua..
    hehe..
    ini nih yg dinamakan fenomena alam..
    :D

    BalasHapus
  3. bener sob....,
    kebetulan kmaren hari ane juga
    liat tayangannya di metro...,
    seandainya tu gnung bisa di daki
    pasti ane pngen mncoba mndaki tu gnung...,
    maklum sob naek gunung slah satu hobi ane.... :)

    BalasHapus
  4. @Portgas D alex
    iya,
    gak ke bayang ntar kalo meletus.
    Jangan sampai deh..

    BalasHapus
  5. @Agung A. Kusuma
    Itulah Kebesaran Ilahi.

    BalasHapus
  6. @toko komputer online
    Wah..
    Pendaki sejati..
    hehe..
    Tapi itu aktif lho kang,
    dan banyak 'semburan'2 di badan gunungnya.

    BalasHapus
  7. gimana kalau gunungnya meletus nih, gak bisa kebayang deh

    BalasHapus
  8. waduh....
    efeknya besar gak nih ?

    BalasHapus
  9. @lepembusu13
    dan
    @kakve_santi

    Katanya pakar oceanography terkemuka di Indonesia sih gak begitu besar efeknya.

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...