Selasa, 28 Agustus 2012

Akulah Sang Limbah (Usia Limbah...)

Usiaku adalah bayang semu untukmu…
Sebenarnya kita tidak asing akan hal-hal mengenai limbah, baik apa itu limbah, jenis-jenisnya, cara mendaur ulang, maupun ajakan untuk mencintai rumah (bumi) kita ini; tapi kita seakan tak mempedulikan hal-hal seperti itu.

For you info, sampah itu tidak begitu saja menghilang setelah kita buang namun tetap masih ada di Bumi. Singkatnya seperti kutipan sebuah surat kabar yang kurang lebih, “Bumi kita ini nggak membuang sampah loh. Bumi cuma memindahkan sampah. Butuh kondisi dan syarat tertentu agar sampah terdegradasi secara alami, dan itu tidak singkat!”.

Usia Limbah... 

1. Koran Bekas (4 Minggu)
Ternyata untuk terdegradasi secara alami, limbah ini tidak semudah yang kita bayangkan. Butuh waktu selama 4 minggu agar dapat terurai, apalagi saat kondisi basah limbah ini sulit terurai karena air menghambat terurainya zat selulosa. Makanya, limbah ini sebaiknya didaur ulang.

2. Kardus (2 Bulan)
Untuk limbah ini sebaiknya kita manfaatkan kembali, dan kardus dapat dijadikan pupuk kompos kalau memang benar-benar sudah rusak.

3. Puntung Rokok ( 10 Tahun)
Kecil-kecil cabe rawit, ternyata justru limbah ini di luar yang terbayang. Limbah ini hampir 95 persen kandungan pada filternya mengandung zat kimia sehingga susah untuk terurai. Catet!

4. Botol Plastik (450 Tahun)
Sudah banyak upaya untuk pemanfaatan ulang limbah ini dan terus masih dikembangkan. Limbah ini memang terurai sangat lama karena mengandung Polyethylene terephthalate (PET) polimer kimia bentukan minyak bumi. So, jangan biarkan dia merusak rumah kita.

5. Kaleng Bekas (500 Tahun)
Proses daur ulang kaleng besi lebih rumit daripada kaleng alumunium, dan dibutuhkan jutaan tahun agar limbah kaleng ini secara alami terurai kembali menjadi biji besi dan timah. (!)

6. Plastik Kresek (1000 Tahun)
Oh men! Butuh waktu yang lama sekali. Limbah ini umumnya terbuat dari high-density polyethyene (HDPE) atau low density polyethyene (LDPE), itu biang keroknya.  Maka dari itu ayo kita serukan gerakan “Diet Kantong Plastik”, yakni setiap kali belanja di supermarket misalnya, kita membawa tas belanja sendiri, sehingga mengurangi jumlah pemakaian plastik itu sendiri.

7. Stereofoam/Styrofoam (ABADI)
Atau Expanded polystyrene (EPS), menurut pendapat ilmuwan bahan ini (mungkin) tidak bisa terurai. Sebungkus limbah stereofoam tidak akan terurai di dalam tanah. Speechless..

Ngeri..
Saat ini yang kita butuhkan adalah AKSI (action) bukan hanya omongan basa-basi dari kita sendiri.


thanks to: Jawa Pos

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...